Sabtu,
08 September 2012. Pk 19.00 Malang.
Dear Diary,
Hari ini terlalu indah buat aku.
Tadi sebelum kuliah jam kedua Yayah datang ke kampusku. Ada sesuatu yang dia
bawa untukku. Bukan coklat seperti biasanya, tetapi sebuah laptop lengkap
dengan tas dan asesorisnya. Warnanya putih, cantik sekali. Kata Yayah laptop
ini untuk memudahkanku dalam kuliah dan menulis. Alhamdullilah! Aku seneng
banget Diary, bukan karena apa yang dia berikan, tetapi ketulusan dan dukungan
penuh yang selalu Yayah berikan untukku. There’s no reason to leave him...to
forget him...
Diary, malam ini kita ngobrol
sebentar aja ya? Aku capek dan ngantuk banget setelah bekerja dari pagi hingga
siang terus kuliah dari siang sampe sore. Met malem sahabatku....
Rabu, 12 September 2012. Pk 21.00
Malang.
Diary sayang, tiba-tiba aja aku
kangen dengan curhatku ke kamu tentang semua rasaku pada yayah. Maka aku buka
kembali lembar demi lembar halamanmu, kubuka lagi ingatanku pada semua kejadian
pahit, manis, sedih dan tawa saat aku pedekate bersama yayah hingga akhirnya
mengambil sebuah keputusan besar dalam hidupku.
Diary, kamu masih inget nggak disaat
semua orang mencibir sinis ketika tahu aku menjalin hubungan dengan yayah? Apa
kata mereka? Aku perempuan bodoh yang mau ditipu cowok kampungan, cowok miskin
dan rendah, nggak selevel denganku bla
bla bla...
Diary, hanya kamu yang tahu apa yang
aku rasa. Karena hanya kamulah satu-satunya yang kuceritakan tentang apa yang
telah diberikan yayah padaku yang mungkin takkan bisa aku balas hingga akhir
hayatku. Disaat semua orang mentertawakan dan menghinaku, yayah selalu
membelaku menepis semua omong kosong yang tertuju padaku. Yayah selalu ada
disaat aku menangis karena dicemooh dan disakiti. Saat aku terpuruk, frustasi
dan trauma atas luka masa lalu yang teramat dalam yayah membangkitkan semangat
hidupku, tak henti-hentinya memberi support untukku. Yayah yang menuntunku
kembali ke Jalan Allah yang telah lama aku tinggalkan.
Diary, masih ingat nggak saat aku
cerita ke kamu betapa bahagianya aku ketika
yayah memperlakukan aku bagai seorang perempuan yang mulia, seperti
seorang putri yang suci dan sangat melindungiku. Bahkan saat itu aku menangis
dan malu karena aku sadar betapa hinanya aku dan nggak pantas mendapat
perlakuan bagai seorang Ratu. Yayah telah mengangkat derajat dan harga diriku,
memuliakan hidupku yang dulu porak-poranda nggak tentu arah dan selalu menjadi
bahan cibiran orang-orang di sekitarku.
Diary, saat aku membuat sebuah
keputusan terbesar dalam hidupku dan ketika tak seorangpun meyakini apa yang
aku putuskan. Aku menikah dengan laki-laki yang telah membuka mataku, yang
menunjukkan bahwa dunia begitu indah.
Jumat,
28 September 2012. Pk 23.00 Malang.
Dear
Diary....
Sebagai
seorang suami Yayah mengajarkanku banyak hal yang sebelumnya sempat membuatku
tertekan. Namun kini aku mengerti mengapa seorang wanita harus menjaga
kehormatan diri dan suaminya. Yayah bahkan mendukungku untuk menempuh
pendidikan S1, selalu mendukung hobby menulisku. Yayah selalu menghiburku jika
aku sedih saat tulisanku tidak bisa dimuat di media yang aku tuju. Dia selalu
menyemangati aku agar tetap menulis dan menulis. Yayah mengajarkan aku hidup
dalam kesederhanaan dan ikhlas menerima apapun yang diberikan Allah padaku.
Diary,
Yayah telah mengajarkan padaku untuk selalu bersyukur apapun yang aku terima
dari Allah walaupun sebuah cobaan karena selalu ada hikmah dari setiap cobaan
yang aku hadapi.
Diary, rasanya nggak ada yang pantas bagiku untuk
meninggalkannya seperti yang orang lain katakan padaku. Biarlah, hanya aku dan
kamu yang tahu mengapa aku sangat beruntung memiliki Yayah dan mengapa aku
menganggap Yayah sebagai seorang pahlawan yang telah menyelamatkan hidupku.
Karena selama ini hanya kamu sahabat terbaikku. Walaupun sekarang kamu bukan
sebuah buku lagi, tetapi berupa dokumen yang aku simpan rapi dalam laptopku
kamu tetap satu-satunya sahabat terbaikku yang selalu menginspirasi setiap
langkahku dalam menjalani hidup dan menggapai cita-cita dan mimpi indahku.
Terima kasih Diaryku.