Jumat, 16 November 2012

Empat bintang

Empat bintang dalam hidupku, yang selalu menghiasi perjalanan hatiku mengarung hidup, menyeka air mata, menghias bibir ini dengan senyum, mengurai tawa.....menggiringku pada cerita "dunia ini indah."

Bintangku yang pertama, Trisha aku memanggilnya Icha. Dia adalah Sweet Dear bagiku. Bintangku yang sejak lahir selalu tersenyum manis kepada siapa saja yang ditemui dan menyapanya. Bahkan ketika bayi, saat dia bangun tidurpun dia selalu tersenyum.Indah sekali menatap wajah manisnya yang selalu menebar senyum. Icha yang berperasaan sangat halus, sabar ketika melerai adik-adiknya berebut mainan atau apa saja yang membuat mereka bertengkar. Dia cahaya bagiku dalam kegelapan. Icha yang sangat mengerti dan memerhatikanku bahkan dia sangat tahu jika aku menangis meski dalam hatiku yang terdalam. Icha selalu menemaniku saat aku berbaring sakit dan mengambilkan obat untukku. Ketika dia sakitpun aku menemaninya berbaring seminggu di rumah sakit. Bintangku kini telah remaja, dia nggak lagi suka warna pink. Lewat telepon dia katakan sekarang suka warna biru. Icha berhasil masuk sekolah unggulan di sana. Aku bahagia meski luka itu tetap ada, saat aku kehilangan bintangku yang selalu menerangi kesenyapanku. Yang selalu membuatku lupa pada kegelisahanku dengan seuntai senyum manis dari bibirnya.

Bintangku yang kedua. Chintya aku memanggilnya Tia. Dia adalah Princess bagiku. Bintangku yang sangat ekspresif dan enerjik dalam setiap tingkah lakunya. Dia begitu menggemaskan hingga aku selalu tersenyum atau tertawa melihat tingkah polahnya. Tia yang suka meledak-ledak tapi dia begitu sayang dan tak sanggup berpisah dengan Icha dan Adit. Kulitnya putih mulus tanpa ada bercak sedikitpun, mungkin karena ketika mengandung di sekujur tubuhku timbul bercak hitam bahkan hingga kini bercak itu masih membekas namun ajaibnya Tia lahir dengan kulit halus seputih kapas hingga semua orang memanggilnya "turis" bahkan rambutnya berwarna kekuningan. Tia yang selalu memberi kejutan-kejutan lucu, unik, selalu membuatku bahagia, menghiburku. Tia yang cantik, yang selalu berebut dengan Icha ketika aku meminta tolong mengambilkan popok untuk Adit. Bidadari kecilku kini telah duduk di kelas 3 SD. Tia semakin pintar dan menggemaskan. Sayang, aku tetap harus menahan luka ini karena akupun kehilangan bintangku yang kedua.

Bintangku yang ketiga. Aditya aku memanggilnya Adit. Dia adalah Arjunaku.  Bintangku yang sangat pintar dan lucu juga paling usil diantara semua bintang yang aku miliki. Di usianya 2,5 tahun Adit sudah terbiasa menggoda kakak-kakaknya dengan tingkah polahnya yang jail bahkan hingga Icha dan Tia lari bersembunyi di belakangku. Adit sangat manja padaku melebihi kemanjaan Icha dan Tia. Dia nggak bisa tidur tanpa pelukanku. Tutur katanya halus, cara makannya bersih tanpa tercecer namun jika ada yang mengusik dia akan berubah galak bagaikan jagoan cilik. Aku selalu tertawa melihat kelucuannya. Mungkin karena jarak kelahiran yang dekat Tia dan Adit seringkali berebut aku gendong, ya mereka masih sering iri satu sama lain seolah tak mau berbagi hingga lambat laun aku berhasil menanamkan indahnya berbagi diantara bintang-bintangku yang penuh cahaya ini. Kini, aku kesepian tanpa bisa memeluknya, Arjunaku sudah sekolah di kelas 1 SD. 
 
Bintangku yang keempat. Aku tak sempat memberinya nama, aku bahkan tak tahu wajahnya. Yang aku mimpikan dia seperti Adit yang seharusnya juga menjadi Arjunaku. Dosa besar yang terpaksa aku lakukan yang mungkin membuat Tuhan sangat murka padaku, aku menggugurkan janinku saat keadaanku terpuruk dan aku tak sanggup melanjutkan kehamilanku yang baru berumur 1 Minggu di saat hidupku terguncang  dan nyaris kehilangan kesadaranku. Aku terjerembab dalam trauma yang begitu hebat saat aku kehilangan tiga bintangku yang sangat aku sayang dan selalu menjadi cahaya hidupku. Tak ada lagi yang bisa membuatku tersenyum bagiku hidup tak lagi indah. 

Empat bintangku, yang hingga kini aku tak tahu sebesar dan setinggi apa mereka? Akankan Tuhan mengijinkan kami bertemu dan bersama lagi? Akankah Tuhan mengampuni dosa besarku dan mengembalikan bintangku yang keempat dalam rahimku kini? 
Kini, keadaanku jauh lebih baik, meski belum pulih benar dari trauma masa silam itu. Dan luka itu tak pernah sanggup kusembuhkan tanpa keempat bintang yang selalu mengisi relung hatiku paling dalam. Allah, tolong kembalikan keempat bintangku yang aku beri nama "Anugerah Terindah" yang pernah kudapat dari-Mu.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar